Yaya dan Fobia Kancingnya.

Memasuki bulan April nampaknya erat akan bulan Kartini-an bagi sebagian besar anak-anak usia sekolah. Dari tingkatan TK hingga mungkin SMP atau SMA memiliki cara tersendiri dalam memaknai hari Kartini. Namun sebagian besar sekolah memaknai hari lahirnya Ibu R.A Kartini dengan beragam kegiatan seperti pemakaian baju adat, pentas budaya, pawai baju daerah dan banyak kegiatan lainnya.

Tidak terkecuali di sekolah Abang dan adik. Setiap bulan April biasanya akan ada pawai di sekolah. Namun bukan semata hari kartinian, tetapi mengambil tema besar di bulan April sebagai bulan budaya. Jadi dalam 1 bulan mereka akan membahas beragam budaya yang ada di Indonesia dan juga di mancanegara. Seperti pernah Abang bertanya apa senjata khas dari Australia bun? Atau dia sedang mempelajari lagu Hela Rotane dari Maluku dan terus dinyanyikan kapan saja baik dimobil, dikamar haha lucu. Menyenangkan saat mempelajari beragam budaya yang ada di Negeri sendiri, bahkan nanti gongnya para siswa/i di sekolah TK nya akan melakukan pawai bersama dan diakhiri dengan makan makanan tradisional khas Indonesia.

Si adik Yaya pun tidak kalah bersemangat, maklum ini adalah kali pertama ia akan mengenakan baju dan ikut berpawai. Tahun ini Yaya merupakan bagian dari PlayGroup, sementara Abang sudah masuk ke barisan TK. Saya sendiri sudah membayangkan betapa gemesnya melihat Yaya menggunakan busana daerah dan ikut berpawai. Dan saya teringat untuk memakaikan ia baju kutubaru yang pernah saya jahitkan kembar dengan punya saya.

Saya tanya Yaya “Dek, nanti adek pawai loh kaya Abang. Pakai baju kebaya adek yaaa.. Yang samaan sama bunda?”

Dia jawab “Yang mana bun..?”

Saat saya cari di lemari pakaiannya dan memperlihatkan ke dia, seketika raut mukanya berubah. “YAYA GAK MAU PAKE BAJU ITU” sambil pergi berlari. Saya coba dekati tetap dia gak mau katanya jelek bajunya. Dan  saya baru sadar kutubaru itu selain ada pengaitnya juga ada bagian kancing jepret. Meskipun saat dikenakan tidak terlihat tapi tidak bagi anak gadis saya yang satu ini.

Baju Kebaya Kutubaru yg tadinya mau dipakai

Yaya sangat tidak menyukai kancing. Entah mengapa penyebab bisa ia segitu tidak suka akan kancing. Saya baru menyadari keanehan pada Yaya setahun terkahir saat dia mulai sekolah. Bicara sudah mulai banyak dan bisa menolak bila ada yang kurang berkenan. Seperti kasus kancing baju ini.

Awalnya saya anggap reaksi Yaya akan pemilihan baju yang saya tawarkan-kemudian dia tolak merupakan hal yang wajar. Mungkin dia bosan atau tidak suka dengan pilihan saya. Namun yang sering terjadi saat saya pilihkan baju hal yang pertama ia lakukan ialah meneliti setiap detil pakaian apakah terselip kancing atau tidak. Iya kancing! Bagi saya itu hal yang biasa melihat kancing berada di bagian dada baju, pergelangan tangan atau bagian belakang pakaian. Tapi tidak bagi Yaya. Bila ia menemukan satu saja kancing tersemat di bajunya reaksi yang biasanya dia lakukan melempar baju tersebut dan berkata “JOROK…” ;$€^÷€_#*£#*¥@ what? 😅

Oiya, hal kedua yang ia lakukan selain mengecek detil kancing, ia juga sering melihat label di pakaian khususnya baju. This is ridiculous for me dek haha jadi Yaya akan meminta saya menggunting label khususnya yang agak panjang krn gatal di tengkuknya. Jadi jangan harap melihat ada label baju di pakaian-pakaian Yaya karena hampir semua sudah saya gunting atau dia tidak akan memakainya meskipun gambar di baju itu Elsa si Putri Frozen favoritnya 😂😂😂

Sekali dua kali saya masih diamkan kebiasaan ajaibnya, tapi lama-kelamaan hal ini sering terjadi. Bahkan pada pakaian baru sekalipun yang diberikan orang lain. Pernah suatu kali adik saya yang menetap di Turki datang dan membawakan Yaya baju. Warnanya pink seperti warna favoritnya. Namun adik saya cerita setelah berapa detik baju itu dilempar dan dibuang. Ahahaha. Usut punya usut karena saat dikasih saya tidak di dekat dia, Adik saya cerita saya melihat baju berwarna pink dengan gambar sepatu ballerina dia sangat sumringah tapi saat melihat ada kancing. Yak! Kancing baju di bagian sepatu ballerina sebagai hiasan dan dua buah lagi di bagian belakang baju dia langsung bilang “Jelek….” haha gantian adik saya yang bengong. Kemudian saya ceritakan ‘keajaiban’ Yaya akan pemilihan pakaian dia dan meminta maaf atas kejadian tadi. Sampai sekarang pun baju tersebut masih belum disentuh Yaya haha..

Baju dari auntu yang sampai saat ini belum dipakai

Semenjak beberapa kejadian tadi, saya berpikir apa iya si Adek memgalami fobia akan kancing? Well this is weird for me, Tapi setelah googling dan voila benar adanya. Fobia terhadap kancing itu nyata kaaaak! Meskipun terjadi 1 dari 75.000 orang berdasarkan survei but it is real. Apa yang mungkin terjadi di adek dia bilang kancing jorok ya mungkin dia mata dia itu kancing macam got kalo emaknya. Weks!

Menurut wikipedia Fobia atau ketakutan terhadap sesuatu bisa saja terjadi pada kancing. Fobia ini sering disebut dengan Koumpounophobia. Koumpouno sendiri berasal dari bahasa Latin yang artinya Kancing dan Phobos yang artinya takut. Ciri yang sering terlihat dari Koumpounophobia ialah orang tersebut akan merasa cemas berlebihan bila melihat, membicarakan atau berpikir mengenai kancing. Berlebihan? Yak sebagian orang  berpikir bahwa fobia terhadap kancing merupakan hal yang berlebihan, lebay tapi kita tidak pernah tau apa yang mereka lihat. Seperti si adek bagi saya memasang kancing hal yang biasa tapi tidak bagi dia, melihatnya saja sudah mengatakan Jelek, Jorok dan lainnya. Bahkan terkadang kalau lagi kumat lebainya terutama saat tidur, dia akan memeriksa dulu apakah saya mengenakan kancing atau tidak. Kalau iya, pasti dia akan suruh saya ganti baju yang tidak ada kancingnya. Ampun bgt!

Berdasarkan http://www.fearof.net/fear-of-buttons-phobia-koumpounophobia/ ada beragam penyebab koumpounophobia seperti :

  • Novel Horor “Coraline” karya Neil Gaiman yang mengilustrasikan tokohnya dengan kancing pada bagian mata. Karakter tokoh utamanya mengalami Koumpounophobia karena mata yang menjadi jiwanya m kelamaan menjadi gelap, hilang dan kehilangan jiwanya. Ini emaknya juga takut hehe
  • Ketakutan akan kancing pun erat kaitannya dengan suatu kejadian di masa anak-anak. Seperti contoh kasus ada seorang Bartender di Inggris mengingat saat di usia 2 tahun melihat ada kumpulan kancing yang jatuh di atas kepalanya. Atau beberapa anak pernah mengalami tersedak atau tertelan kancing yang mengakibatkan ketakutan akan kancing sepanjang hidupnya
  • Childhood abuse oleh seseorang yang menggunakan pakaian dengan kancing
  • Atau bisa saja ketakutannya hanya karena kancing merupakan objek sirkular (bulat) dan beberapa peneliti erat mengaitkan ketakutan itu akan lubang.

Sementara gejala dari koumpounophonia yang sering terlihat :

  • Menolak untuk mengenakan datang ke acara formal karena banyak baju tuxedo, jaket dengan kancing
  • Mudah berteriak atau kehilangan kendali saat melihat 1 kancing saja.  》ahaha ini Yaya banget
  • Mengalami akan muntah, jijik atau sakit bila  menemukan kancing. 》okey, belive it or not. Anak si mbak ART dirumah pun menurut dia takut sama kancing. Jadi selama mulai sekolah, sering muntah dan sakit saat ditelusuri ternyata sama kaya si Yaya tidak bisa melihat kancing bahkan 1 buah pun. Namun katanya semakin  besar rasa jijik akan kancing agak berkurang.
  • Beberapa orang akan mencuci tangannya secara berulang-ulang setelah menyentuh kancing. 
  • Pada kasus terlampau ekstrim, bahkan ada orang yang takut bila menulis kata kancing atau meneriakkan itu dengan keras.

Penanganan untuk koumphonophobia sendiri yang bisa dilakukan seperti :

  • Terapi berbicara dnegan para Koumpounophobia. Hal ini dilakukan agar pemikiran mereka akan kancing lebih rasional dan merubah secara positif objek akan kancing bukan sesuatu yang menakutkan. Support keluarga dan menhindari bully sangat membantu ia dalam proses penyembuhan
  • CBT (cognitive behaviour therapy), merubah respon negatif menjadi positif.
  • Virtual Reality Exposure
  • Mengikuti Self Helo Groups
  • Hipnoterapi

Oiya sadar ga kenapa produk Apple tidak ada button atau tombol yang banyak? Namun hanya ada 1 tombol saja. Karena seperti dilansir oleh https://www.verywell.com/koumpounophobia-2671825 pendiri Apple, Steve jobs pun memiliki riwayat ketakutan akan tombol/ kancing

Steve Jobs

In 2007, Apple co-founder Steve Jobs revealed his button phobia to the Wall Street Journal. His phobia extended far beyond clothing buttons, ironically setting the stage for what was arguably the forward-thinking company’s most remarkable success. 

” Modeled after the company’s 1993 Newton MessagePad PDA, the revolutionary iPhone took the world by storm upon its 2007 release. Singlehandedly, it changed the concept of a cell phone from a device that resembled a traditional telephone to a smooth rectangular block that consisted primarily of a touchscreen. If Steve Jobs had not been afraid of buttons, would cell phones and tablets as we now know them exist today? “

Kembali ke cerita Yaya mencari pakaian tadi, akhirnya saya mencoba berkeliling pusat perbelanjaan dekat rumah siapa tau menemukan baju kebaya dengan model retsleting. Tapi hasilnya NOL, haha.. yang ada baju kebaya yang sempat kita lihat dilempar si adek karena melihat ada kancing jepretnya, tinggal saya yang gak enak sama penjual yang mukanya sudah berubah. Maklum memilih untuk beli supaya irit bisa dipergunakan lagi suatu saat nanti ahahahaa.

Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa di tempat langganan biasa. Dengan pesan, mbak tolong carikan baju tanpa kancing, tanpa kancing jepret supaya si Yaya mau memakainya dan terlihat cantik tanpa muka masam di pawai nanti.  Dan semoga saja suatu saat nanti keresahanmu akan kancing akan hilang dan berganti dengan senyuman 🙂

April, 2017

Love.

Bunda

Your smile is a sun for me, lil kid

Yeaay baju nya sudah siap untuk pawai!

Advertisements

3 Replies to “Yaya dan Fobia Kancingnya.”

  1. Hallo, salam kenal nama saya Putri dari Jogja. Saya nemu blog Mbak setelah browsing2 ttg phobia baju kancing. Kebetulan stgh tahun ini saya dan suami lumayan pusing karena tiba2 anak kami (saat ini usia 3 tahun) menolak memakai baju kancing. Biasanya disertai panik, tangisan lalu tantrum. Belakangan kami berencana ingin mengonsultasikan masalah ini pada psikolog anak tapi masih maju mundur ragu2. Oiya, anak saya tidak panik (biasa saja) saat berhadapan dengan kancing2 yang masih belum terjahit. Saya sengaja membeli banyak kancing agar responnya lebih positif thd kancing. Dia memegang dan memainkannya seperti biasa.
    Panik hanya terjadi saat kancing tsb terpasang pada baju yang akan dikenakannya. Saya berharap hal ini ada solusinya mengingat seragam sekolah kan pasti baju berkancing walopun saat ini anak saya belum sekolah, tapi saya berharap phobia baju kancingnya segera teratasi.
    Semangat untuk Yaya juga ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s