Review Sekolah : Mengapa Bumi Bambini?

Ini merupakan tahun ke 3 anak saya yang sulung terdaftar sebagai murid Bumi Bambini. Sedangkan adiknya, masih di tahun pertama masuk Playgroup (PG). Domisili tempat tinggal saya meskipun di Pamulang namun masih cukup terjangkau dari Bumi Bambini yang berada di kawasan Bintaro. Terkadang memang hal ini membuat pertanyaan beberapa orang, bahkan Ibu saya sendiri. Katanya nyari sekolah saja buat Playgroup atau TK jauh banget. Hehe

Sebetulnya ada alasan lain selain pertimbangan sekolah saat memutuskan menyekolahkan si sulung di Bumi Bambini. Saat saya dulu terdaftar sebagai karyawan salah satu Lembaga Kesehatan di daerah Ciputat, saya melakukan riset sekolah mana yang masih dalam lingkup daerah kerja saya. Akses mudah dan letaknya tidak jauh dari kantor. Setelah mencari dan mendatangi beberapa sekolah, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan Anza disana.

Namun yang terjadi kurang dari setahun dia masuk Playgroup, banyak hal terjadi. Pertama Anza sering sakit dan membuat saya sering ijin, kemudian lahir si adik yang juga terkadang tidak ada ART membuat saya juga sering ijin dan puncaknya si Abang tidak mau diantar siapapun juga ke sekolah kecuali oleh saya, Ibunya.

Akhirnya dengan berat hati saya memutuskan untuk resign karena situasi yang sangat tidak memungkinkan saat itu. Saya ingat bagaimana saat ia memasuki kelas untuk ujicoba (trial class) di Bambini. Dari dalam kelas yang saya ikut masuk kedalamnya, hingga naik ke bagian atas sekolah yakni rumah panggung. Karena saat itu karena sedang hujan maka kegiatan senam di halaman ditiadakan dan dilaksanakan latihan senam diatas. Anza? haha menangis terus dia tetapi saya ingat bagaiamana gurunya akhirnya mencoba “menarik” Abang dan mengajaknya bermain meskipun diiringi derai airmata. Menurut saya ini salah satu nilai penting saat mengikuti trial class bagaimana guru dapat membuat nyaman murid khusunya anak pra sekolah. Dimana menurut mereka seperti orang asing yang tidak dikenal.

Selain aspek guru tadi saya juga melihat bagaimana Bumi Bambini mencoba untuk mempertahankan nilai budaya Indonesia di lingkungan sekolah. Seperti halnya rumah panggung yang juga didalamnya banyak terdapat beberapa ornamen tradisonal, di lingkungan sudut sekolah pun banyak simbol yang masih menggunakan bahasa Ibu. Mengenai bahasa ini merupakan concern saya dan suami. Kami berdua ingin sekolah anak dimasa PG ataupun TK lebih mengutamakan penggunaan bahasa Ibu, dibanding bahasa asing. Karena diusia nya saja saat  memasuki Pra TK, Abang masih kesulitan bicara. jadi menurut kami akan lebih baik bila ia menggunakan bahasa Ibu.

Hal lain yang menarik saat saya mensurvey sekolah Bumi Bambini yakni fasilitasnya yang menurut saya sangat memadai. Meskipun berada di pinggir jalan raya Ki Hajar Dewantara, namun saat memasuki lingkungan sekolah akan menemukan suasana rimbun dan menenangkan. Gedung dengan sentuhan warna kuning, orange, hijau dan banyak pohon, arena outdoor, arena outbound, kolam renang yang memang merupakan bagian dari fasilitas sekolah.

Lapangan kecil
Hasil Karya Anak PlayGroup di selasar sekolah
Selasar Sekolah
Kolam Renang Sekolah
Area depan Sekolah

Sistem penilaian di sekolah pun tidak memberikan nilai, namun lebih kepada gambaran muka (enoticon), apakah senyum, sedih atau tertawa bahagia saat melakukan kegiatan. Oiya, Bumi Bambini tidak menerapkan sistem sentra maupun Montessori. Namun bagi saya terlihat seperti Sekolah TK biasa dengan fasilitas medekati sekolah alam.

Sistem pengajaran disini tidak mengajarkan Calistung secara langsung, namun bertahap sesuai tingkatan usia dan hanya berupa pengenalan saja bukan menjadi kewajiban. Selain itu disini tidak ada Pekerjaan Rumah (PR) karena memang melalui bermain itu mereka belajar. Nah ini sesuai lagi nih dengan visi misi saya dan suami saat menyekolahkan Anza terlalu dini yakni usia 2 tahun 8 bulan pada tingkat Playgroup A. Keinginan kami saat itu hanya Anza bersosialisai dengan teman sebayanya dan ada kegiatan saat saya diluar rumah tidak semata nonton tv saja.

Bumi Bambini sendiri saat ini menggunakan sistem penilaian Multiple Intteligence Monitoring System (MIMS) dimana berdasarkan pembagian kemampuan anak yang terdiri dari 8 aspek akan didapatkan beberapa ruang lingkup. MIMS sendiri menjadi bahan acuan bagaimana ketertarikan atau kecendrungan anak kita dalam suatu hal. Kondisi ini dapat dipantau setiap bulannya melalui media internet sekolah. Dimana orangtua akan melihat apakah terjadi perubahan kecendrungan minat anak terhadap lingkup tersebut atau malah dia akan berubah. Selain itu faktor penilaian MIMS juga dijabarkan saat pemberian rapor akhir semester selain pembagian rapor. Namun sayang terkadang updatenya suka masih agak lamban hehe

Terlepas dari sistem kurikulum dan pendidikan yang dianut oleh Bambini, yang saya rasakan anak saya selalu senang pergi ke sekolah. Ada memang saat dia terkadang menolak untuk berangkat sekolah karena mungkin sedang tidak mood, biasanya saya akan diamkan saja dan memberinya pilihan untuk tetap bersekolah atau tidak. Tapi itu jarang sekali  yang ada dia selalu berteriak agar saya segera berangkat pagi dan setiap pulang sekolah ada saja cerita mengenai teman dan kegiatan di sekolah.

Ini mungkin beberapa keunggulan Bumi Bambini di mata saya,

  • Fasilitas yang sangat baik, terdiri dari ruangan indoor dan outdoor. Untuk ruangan indoor anak tidak akan berpindah kelas, namun selain kegiatan utama berada di kelas pada jam tertentu mereka akan masuk ke ruang musik, ruang komputer dan perpustakaan unuk meminjam buku minimal 1 minggu sekali. Sementara untuk fasilitas outdoor terdiri dari Taman bermain yang cukup bersih dan rimbun, fasilitas outbound, kolam renang dan di bagian belakang sekolah terdapat hamparan hijau dimana-mana dengan kolam kecil bersampan yang dilengkapi dengan saung dan panggung kecil tempat anak-anak melakukan pentas akhir tahun. 
  • Fasilitas ruang parkir yang menurut cukup memadai
  • Biaya yang relatif jauh lebih minim dengan kompetitor sejenis dengan fasilitas yang tidak kalah baik. Biaya sekolah di Bambini sangat fair dengan biaya per tahun, kita tidak ada dimintai biaya apapun seperti filed trip dll, kecuali spp sekolah.
  • Bahasa yang digunakan ialah Bahasa Indonesia. Ini penting bagi saya karena bagi saya anak-anak saya harus bisa dengan jelas mengucapkan dan berbicara dengan bahasa ibu. Untuk bahasa lain seperti bahasa inggris mereka hanya mengenalkan saja pada beberapa kosakata ataupun saat bermain dan bernyanyi
  • SDM tenaga pendidikan yang baik dan ramah. Ini juga merupakan hal penting dalam pemilihan sekolah bukan? Bagaimana perilaku orang yang akan menemani anak kita di sekolah merupakan aspek yang tidak bisa kita remehkan begitu saja. Yang saya heran bagimana guru guru PG dan TK bisa dengan cepat hafal nama semua murid meskipun bukan anak didiknya sendiri dan selalu menyapa dengan ramah.
  • Mempunyai tema yang berbeda di setiap bulannya dan diaplikasikan kedalam beragam kegiatan seperti tema budaya dan mengajak anak2 utk memakai baju adat, tema Negara Indonesia, tema keluarga dengan mengajak orangtua ikut serta dalam Family Day di sekolah atau Market Day dimana anak2 membuat barang yang akan dijual lalu menjajakannya di sekolah, dll.
  • Mengajarkan anak untuk lebih mandiri. Setiap field trip sepanjang Abang PG A hingga TK seperti sekarang, dia tidak pernah pergi didampingi saya. Jadi hanya guru dan pihak sekolah saja yang menemani meskipun fieldtrip biasanya hanya berkisar di wilayah JaBoDeTaBek. Kalaupun ada orangtua yang menemani, tidak boleh berada dekat dengan siswa
  • Tidak mengajarkan calistung secara spesifik. Hanya berupa pengenalan saja. Jadi membiasakan anak membaca buku dan membawanya kerumah, diharapkan membangun keinginan anak untuk belajar membaca. Selain itu pula metode membaca atau calistung tidak dipaksakan seperti yang saya lihat pada Anza
  • Memajang karya siswa dari PG-TK dibagian depan kelas, yang saya yakin sangat baik untuk membangun kepercayaan si anak bahwa ia bangga hasil karyanya diperlihatkan ke orangtua atau orang lain.
  • Menggunakan buku penghubung siswa dan orangtua, dimana setiap harinya orangtua bisa memantau apa saja yang dilakukan anak dan bagaimana respon si anak. Respon ini ditandai dengan emoticon seperti sedih 😟 senyum 😊 dan tertawa πŸ˜ƒ
  • Kurikulum nasional dan merupakan sekolah umum. Jadi menurut saya anak-anak akan belajar mengenai keberagaman yang ada di sekitarnya sejak dini. Seperti suatu saat Anza pernah bertanya, mengapa temannya berdoa dengan cara menggenggam kedua tangan tidak seperti dia yang menengadahkan tangannya atau pulang sekolah dia bisa membuat hiasan yang berasal dari Bali. Mengajarkan nilai agama memang penting namun juga tidak kalah penting bagi saya, bagaimana mengaplikasikannya unuk anak-anak seusia mereka belajar bertoleransi dalam beragama dan mempunyai teman yang berbeda latar belakangnya.

Sementara masih ada sedikit hal yang mungkin kurang pas dimata saya selama di Bambini :

  • Komunikasi antara pihak sekolah – tenaga pengajar dan orangtua sering terkendala karena satu dan lain hal. Seperti yang saya lihat tidak adanya forum komunikasi orang tua di Bumi Bambini. Dimana menurut saya hal ini penting untuk membahas bilamana ada permasalahan atau masukan dari para orangtua ke pihak sekolah begitupun sebaliknya
  • Tidak ada lanjutan Sekolah Dasar di Bumi Bambini hihi. Ini yang kadang bikin mumet bukan saya saja, tapi juga beberapa orangtua. Karena harus mencari sekolah lanjutan setelah selesai TK nanti. Pernah suami saya bilang, coba aja Bambini ada SD nya kita sudah gak pusing cari lagi ya bun.. πŸ˜†

Oiya sekedar info, mulai tahun ajaran 2016/2017 kemarin Bumi Bambini memiliki kelas siang baik di tingkat PG dan TK. Karena tingginya minat dan terbatasnya jumlah kuota sekolah yang menyebabkan Bumi Bambini akhirnya mengadakan kelas siang, meskipun baru 1 kelas masing masing di jam siang. Dimana pengaturan jam belajarnya menjadi,

PG A dan B pagi jam 08.00 – 10.00

PG A dan B siang jam 10.30 – 12.30

TK A dan B pagi 07.30 – 11.00 atau jam 12.00 bila ada ekskul

TK A siang 12.30 – 16.00 dengan eksul mulai jam 11.00 hingga 12.00
Berikut beberapa gambaran kegiatan di Bumi Bambini

Outbound di bagian depan sekolah
Saatnya berenang
Beberapa binatang yang cukup terawat dan pada waktu tertentu anak-anak boleh memberikan makan
Salah satu kegiatan sekolah
Bermain di area pasir
Salah satu tema sekolah, Market Day
Berbagi makanan khas daerah di Hari Budaya
Bermain di ruang musik
Hari Budaya
Memperingati 17 Agustus
Salah satu kegiatan ekstrakulikuler yakni, bermain bola

Pentas akhir semester yang dilakukan di bagian belakang sekolah

Flying Fox

Sampai sekarang kedua anak saya tidak mau pindah untuk disekolahkan ketempat lain. Mereka hanya mau nanti saat SD saja baru pindah sekolahnya. Satu hal yang terkadang membuat mereka kesal hanya saat bangun pagi dan bersiap ke sekolah. Sisanya, setelah pulang sekolah saya jamin biasanya butuh waktu 10-30 menit membujuk mereka untuk akhirnya pulang sekolah karena mereka akan menghabiskan waktunya untuk bermain di sekolah.
Terima kasih Bumi Bambini telah menjadi rumah kedua bagi kedua anak saya. Rumah kedua yang menyenangkan untuk belajat dan bermain. Sesuai dengan motonya, semoga kelak Bambini akan semakin “Berkembang dalam kasih sayang”

Ini kami

 

Mei, 2017

A.Sabhrina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s