The Power of “Circle of Moms” (karena Ibu ingin dimengerti)

Dua pekan lalu saya datang ke acara Circle of moms #lingkaranibu dari komunitas HaloIbu. HaloIbu ini ialah komunitas Ibu yang diprakarsai oleh mbak Asthra Efendy yang aktif mengkampanyekan isu mengeani Ibu dan wanita dan dalam postingan yang sering saya liat dalam akun IG @halo.ibu mereka biasa berbagi cerita mengenai perjalanan seseorang menjadi Ibu, bagaimana suka dukanya dan cerita mengenai lain mengenai Ibu.

Saya datang telat ke event tersebut karena harus mengikuti pelatihan ASI terlebih dahulu. Acara ini mengambil tempat di Nujuh Bulan studio. Oiya, Nujuh Bulan sendiri terletak di Ruko daerah Bintaro sek.9, yakni tempat untuk berlatih yoga untuk para ibu hamil maupun yang tidak hamil dan juga beberapa aktifitas lain disini seperti doula, konseling, bahkan menemani Ibu yang mau lahiran, dll. Saya sendiri sudah pernah ke Nujuh Bulan sebelumnya karena waktu itu sempat bekerja sama dengan event GarASI Kita.

Saat saya masuk saya disambut oleh panitia dan disuruh menuliskan beberapa hal untuk dibicarakan nanti, seperti :

– Apa saja kegiatan sehari-hari

– 3 hal yang ingin kamu buang dari diri kamu

– 3 hal yang kamu sukai dari diri kamu.

Saya lagi bingung mau nulis apa

Duh, susah yaa bok peernya.. hahaha.

Okey lanjut masuk ke bagian atas saya bertemu dengan para Ibu yang sudah duduk melingkar. Ada mbak Asthra Effendy yang saya ketahui dari postingan IG @haloibu, dan juga ada mbak Tia owner dari Nujuh bulan selebihnya muka baru semua bagi saya. Saat duduk mengikuti lingkaran mbak Asthra mempersilahkan saya untuk menulis apa yang disuruh oleh panitia dan sambil saya mengerjakan bila nanti ada ibu yang telah selesai bercerita saya diminta turut berpegangan tangan membentuk lingkaran dan  saat Ibu selesai bercerita mengatakan “Thank you for listening” we should say “Thank you for sharing”. Menarik bukan?

Suasana Lingkaran Ibu

Saat saya duduk sudah ada yang bercerita mengenai dirinya, sambil saya berpikir keras mengisi kolom pertannyaan 3 hal yang menarik dari diri saya apaaaaaaa ini deh haha binguung dan yang mau dibuang.. tiba tiba sambil nulis pernyataan mbak Asthra sontak membangunkan saya “Jadi dalam sehari adakah waktu untuk diri kamu sendiri?” Uppss… Kebetulan saat itu yang sedang bercerita yakni Mbak Irma Syahrifat yang baru saya kenal ternyata beliau ialah praktisi Doula di Nujuh Bulan. Dia cerita karena baru punya anak ke 3 jadi hampir sebagian waktunya hanya untuk anak. Mirip mirip kaya saya juga siiih pas saya liat di list.. haha

– Bangun tidur sholat subuh dan beberes rumah

– Masakin anak, siapin bekalnya, mulai siangin bahan makan siang

– Mandiin anak terus suapin sambil sesekali masak

– Mandi dan anter anak kalau suami gak bisa

– Praktek pagi

– Jemput anak di Sekolah

– Siapin makan siang

– Tidurin mereka dan jemur pakaian

– Bangun sore mandiin dan anter ngaji

– Siapin bekelnya dan makan malam suami plus perlengkapan buat ke praktek

– Praktek sore sambil suapin anak

Sampe rumah beresin semua keperluan anak untuk besok, keperluan suami dannnnn…. mulai lagi besok pagi dengan ritual yang sama. Haha

Saya pikir, iya juga ya saat ditanya which part of your day, that you give a time for yourself? Errrrghhh.. bisa siiih pas maen HP kalo ga ada pasien atau pas bangun pagi abis subuh anak belom bangun bisa ngopi bentar hahaha. Selebihnya yaaa bhay semua urusan anak, suami dan rumah. I even forgot when is the last time scrubbing di kamar mandi yeaah. Its a simple thing, tapi memang udah gak inget banget saking lamanya karena saya pas lagi gak ada ART dirumah juga utk waktu yang lama. So bhay with all that luxurios thing :”(

Satu persatu para Ibu tersebut bercerita ada yang menceritakan kegalauannya karena dulu sempat menjadi wanita karir dengan posisi sangat tinggi namun langkah karirnya harus terhenti karena keinginan untuk memiliki buah hati, ada yang bercerita tentang keresahannya saat memutuskan berhenti dari kerja karena keinginan yang kuat untuk dekat dengan anak meskipun lingkungan terdekat saat masih mengharapkan ia menjadi seorang wanita yang bekerja hingga ada rekan sejawat yang saya baru tau saat acara berlangsung galau saat harus memilih untuk mengikuti suami dinas luar atau tetap praktek atau cerita dimana sang Ibu harus menjadi tulang punggung keluarga dan berharap suatu saat bisa berhenti dan mengurusi bisnis.

Ada pula Ibu yang menceritakan tentang kegelisahan dia terhadap pasangan seperti komunikasi yang tidak baik, atau ada yang bercerita bahwa anaknya sering membuat ia bersedih karena temperamen yang mudah sekali marah atau ada yang bercerita bagaimana seorang Ibu mengalahkan rasa emosinya yang terlampau besar saat letih menghadapi anaknya yang lahir dengan kebutuhan khusus bahkan hingga ada yang cerita pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan hingga bully yang berimbas pada kepercayaan dirinya saat ini.

Saat saya dihadapkan untuk bicara hal yang saya utarakan ialah betapa letihnya saya harus mengurus semua sendiri tanpa ada bantuan ART kala itu. Saya tidak mau anak-anak terlantar tapi tidak mungkin juga usaha yang saya rintis dari nol saya biarkan tidak berjalan begitu juga dengan praktek saya di RS, semua harus bisa berjalan seperti adanya. Tetapi berat karena tidak ada tempat untuk berbagi rasa bahwa terkadang hal-hal seperti itu membuat saya lelah.

Semua cerita mengalir begitu saja, tidak ada batasan, tidak ada yang dapat kami tahan rasanya untuk tidak kami ceritakan meskipun lingkungan tersebut baru. Mungkin disanalah inti berbagi lingkaran yang sesungguhnya MENDENGARKAN WANITA berbicara mengenai dirinya pribadi bukan sebagai Ibu, Istri, Pekerja. Berbicara apa kegelisahan kami, apa kegalauan kami saat memasuki fase seorang Ibu dan mendengarkan kisah sesama wanita, membuat saya menyadari bahwa ya saya tidak sendiri di fase ini. 

Dari semua cerita ada satu garis lurus yang saya liat bahwa kita memang sedang menjalani peran sebagai Ibu dengan beragam cerita di baliknya. Ada bimbang kala harus memilih pekerjaan atau anak, ada haru saat melihat anak beranjak besar, ada rasa bangga saat berjalan untuk yang kita yakini, tapi semua hanya tersimpan didalam hati tanpa ada penyaluran emosi.

Dan “teman” terbaik yang paling mengerti kondisi yang kita alami adalah diri kita sendiri bahkan untuk menyadari bahwa seluruh energi negatif tersebut bisa kita BUANG agar jiwa kita menjadi lebih bahagia.

Partisipan dan HaloIbu Circle of Moms

Terima kasih HaloIbu, Terima kasih Asthra.

Thank you for having me to be a part of Circle of Moms.

Ps.

– Di sesi terakhir Lingkaran Ibu kami saling berpelukan dengan teman sebelah dan memberikan kata bahwa “Kamu ialah Ibu yang…”

And that part i cant control my tears, thank you Irma as u said before.

“Mungkin udah jalan Tuhan kita ditaruh sebelahan karena aku ngerasain apa yang kamu rasain”

– dan tiga hal yang saya ingin buang ialah sikap menunda saya, sikap terlalu sembrono dan mengurangi HP. Semoga saya bisa!

Karena wanita ingin dimengerti

Lewat tutur lembut dan laku agung

Karena wanita ingin dimengerti

Manjakan ia, dengan kasih sayang..

– Ada band

A.Sabhrina

Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s